Sabtu, 12 Februari 2011

Sepenggal kisah tentang para Ibu

Diposkan kembali setelah tanggal 25 September 2010

Mencetak bata, ceumacah (menginjak-injak tanah untuk proses menanam padi), menjahit, menyapu jalan, berjualan di kios, berjualan di kaki lima, laundry women(bukan pakai mesin cuci tapi pakai tangan tangguh mereka), menjadi assistant koki di warung makan, mengajar di sekolah adalah deretan pekerjaan para Ibu tangguh ini. Sendiri, sendiri mereka berusaha dengan sepenuh hati untuk menghidupi anak-anak mereka. Mereka bekerja bukan untuk dianggap setara dengan laki-laki, sama sekali bukan, mereka bekerja murni untuk anak-anak dan keluarga. Mereka juga bekerja bukan untuk sederetan merk make-up , TIDAK, sama sekali tak pernah terlihat bedak dipermukaan kulit yang menampakkan daya tarik yang menua. Mereka bekerja juga bukan untuk mengumpulkan kekayaan, tapi hanya untuk mencukupi makanan dan pendidikan tanggungannya.

Yang sangat menarik adalah pendidikan anak-anak mereka. Curahan terbesar yang para Ibu ini berikan adalah memperhatikan pendidikan bagi calon-calon pemimpin bangsa ini. Dengan Rp. 40 per bata yang dia cetak, dia harus membiayai empat anaknya. Memang, tak mahal biayanya menempuh pendidikan di sekolah negeri. Tapi, apakah baju, buku, transportasi sekolah akan membiayai juga? Sama sekali tidak. Ibu inilah yang menanggung semuanya. Calon-calon pemimpin bangsa ini berada di tangan seorang Ibu yang selalu memegang, mengangkut dan mencetak tanah liat yang akan dijadikan bata. Meskipun tak sampai jadi pemimpin bangsa, paling tidak, jadi pemimpin di masyarakatnya. Karena sangat jelas, pemimpin bangsa telah diambil alih orang lain yang sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menjadi memimpin.

Mereka selalu bersyukur, hal itu yang membuat hati merasa sangat terharu. Tak pernah mengeluh, selalu positif dalam setiap tindakan. Tak pernah menyerah dalam menantang hidup, tapi selalu merendah dalam meminta pada Sang Pencipta. Sekeras apapun cobaan yang mereka terima, selalu mereka tersenyum, malah air mata adalah hal yang langka dalam hidup mereka. Jika perempuan terkenal dengan sifat cengengnya, maka sifat ini tidak berlaku bagi mereka, tapi hal ini bukan berarti mereka bukan perempuan sejati! Sejatinya, mereka adalah pejuang perempuan yang sangat-sangat bekerja keras untuk anak-anak mereka.

Sebelum saya lupa, saya mau memberitahu bahwa mereka bekerja bukan karena suami mereka tidak ada pekerjaan, tapi karena suami mereka telah kembali ke pangkuan Rabb. Tak terbesit pun dalam perasaan mereka untuk menikah lagi, bukan karena tidak ada yang mau, tapi karena mereka yakin mereka bisa melalui hidup sendiri. Melalui hidup dengan menghidupi anak-anaknya, bekerja dengan ikhlas untuk keluarganya. Mereka yakin bisa menjadi sosok Ibu yang lembut seperti layaknya Ibu yang ada di seluruh penjuru dunia, tapi mereka juga bisa menjadi Ibu tangguh untuk mencoba menggantikan kehadiran suaminya. Sekali lagi, bukan untuk menjadi Ayah bagi anak-anak mereka tapi mencoba menjadi tangguh agar suasana tegar meliputi keluarganya.

Semoga semangat mereka menular ke kita!

Tak ada yang dapat menandingi keindahan langit pagi dan sore kecuali pelukan seorang Ibu dan tangisan anak bayi

Dara

0 komentar: