
(Mari menjaga lingkungan kita, jika bukan kita siapa lagi? Mau mengharap pemerintah, No Way!)
Perjalanan pekan lalu banyak menyimpan cerita, ya seperti perjalanan-perjalanan yang pernah dilakukan orang-orang sekaliber Ibnu Batutta. Tapi, saya adalah orang biasa yang hanya tahu mencatat apa yang saya lihat dan catatan kali ini adalah hasil pengamatan dalam perjalanan yang sangat melelahkan itu.
Pernah melihat bagaimana kondisi pepohonan di musim gugur? Tidak pernah, saya juga belum pernah. Ya, saya tahu kita hidup di negara yang hanya punya dua musim dan musim gugur tidak termasuk salah satunya, ya saya tahu juga tidak semua kita yang berasal dari Indonesia ini pernah keluar negeri yang ada musim gugurnya. Ya, saya tahu juga kalau mayoritas dari kita pernah melihat gambar atau rekaman tentang bagaimana kondisi pepohonan pada musim gugur. Ya, saya juga tahu kalau beberapa dari kita tidak pernah melihatnya. Bagi yang belum pernah melihatnya, tenang saja, saya akan melampirkannya bersama catatan ini.
Ketika membuka kumpulan lembaran coretan saya, saya menemukan kata-kata autumn in Seulawah. Sejak kapan ada musim gugur di Seulawah? Tapi, musim gugur di Seulawah berbeda, menurut saya sangat eksotis dan juga miris! Jika kita melihat pemandangan di gambar musim gugur, pepohonannya hanya menggugurkan daun yang menjadi miliknya tapi dia masih terlihat hidup. Berbeda dengan musim gugurdi Seulawah, para pohon ini terkesan menggugurkan daunnya atau dipaksakanmenggugurkan daunnya dan terlihat mati, meskipun tidak mati, dia terlihat seperti sedang sakaratul maut dan akan mati dalam hitungan hari atau jam. Saya yakin kalian pernah melihat kondisi pohon disepanjang jalan Seulawah kan? Mereka itu Pohon kering plus asap-asap yang menari-nari disekitarnya. Tak ada harapan hidup saya pikir.
Jika di luar sana musim gugur disebabkan karena proses pergantian musim atau rotasi bumi, maka di Seulawah terjadi karena ulah makhluk yang namanya manusia serakah. Betapa tidak, pepohonan yang seharusnya menjadi pelindung alam namun saat ini mereka hanya bisa meninggalkan jasad yang sebentar lagi akan dieksekusikan juga oleh makhluk yang bernama manusia sedikit serakah. Pohon itu makhluk hidup lho! Kenapa mereka yang bertugas melindungi manusia dari bencana harus diperlakukan seperti ini. Daun yang lebat digugurkan secara paksa! Pohon itu tidak juga egois lho! Ribuan makhluk hidup mencari nafkah di sebatang pohon besar.
Bagaimana temperature dikala musim gugur? Maaf, saya sendiri tidak pernah merasakan bagaimana itu. Tapi, saya pernah merasakan bagaimana musim gugur yang terjadi di Seulawah, panas, penuh asap, terkadang masih terlihat ada sedikit api, terkadang seram dan sepertinya banyak mata dibalik semua itu yang membuat adrenalin meningkat.
Mungkin kecintaan kita terhadap pohon tidak seperti cinta nenek moyang kita dahulu. Pohon adalah lambang kesejahteraan dan kemakmuran bagi mereka. Mungkin kita akan mengatakan hal yang sama tapi dengan sedikit rasa egois bahwa kesejahteraan dan kemakmuran bagi manusia serakah itu sendiri dan tidak untuk lingkungan.
Jika autumn di negeri orang sangat indah, maka di negeri tercinta ini dan tepatnya dibumi Seuramoe ini autumn tidak lain hanyalah matinya pepohonan di hutan yang menjadi salah satu hutan lindung yang berfungsi tentu saja sebagai pelindung berbagai makhluk bukan sebagai tempat latihan militer atau program investasi tanaman sawit atau pisang yang salah tempat!
Ini hanyalah catatan, semoga tidak ada yang protes, maaf saya bukan pejabat
Salam Pohon
:)
0 komentar:
Poskan Komentar