Di posting kembali dari catatan yang lalu. :)
Warna kulit anak itu gelap karena cahaya matahari dan hembusan sang bayu sangat suka padanya. Dia duduk dipinggir jalan di sebuah sudut kota terus berusaha untuk meraih rezeki yang telah Allah tentukan untuknya. Ribuan kali kendaraan lewat menjadi saksi bahwa dia memang disana, tegar dengan segala gaya kekanak-kanakannya dalam mencari rezeki. Aku tak tahu apakah dia bersekolah atau tidak, apakah dia mengaji di TPA atau tidak. Tapi, satu yang selalu tersurat adalah dia ada disana sepanjang hari, ketika bintang besar naik dipagi hari hingga sang bintang bertugas kebelahan bumi lain.
Berjualan dengan muka berpancarkan cahaya kesabaran, dia meniti hari dengan menghitung setiap nominal Rupiah yang dia dapatkan. Apakah cukup untuk sehari ini atau bisa disimpan untuk kehidupan besok. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya dan bukan keinginannya karena dia tidak tahu tentang keinginan selain memenuhi apa yang diperlukan keluarganya. Aku tak tahu berapa jumlah adik, abang atau kakaknya. Dan aku juga tidak tahu apakah mereka melakukan hal yang sama atau tidak. Yang sangat jelas adalah mungkin dia dan anggota keluarganya yang lain setiap harinya berusaha dengan mengeluarkan keringat yang tetesannya mengeluarkan pahala yang tak terhingga.
Melirik kesana, memainkan tangan ala anak umur sepuluh tahunan adalah hal yang sangat membahagiakan menurutnya sambil menunggu pelanggan yang kurang setia dengan apa yang dia perdagangkan. Terkadang dia melihat sekeliling, terkadang mukanya terlihat penuh penantian, penantian untuk mendapatkan rezeki yang bentuknya uang. Uang yang bisa memenuhi keinginannya untuk memberikan kebutuhan buat keluarganya.
Matanya selalu senang melihat seragam anak-anak yang keluar ke sekolah. Mata itu bahagia melihat hal, benar bahagia, sangat bahagia. Aku tahu, dia sangat menginginkan lagi seragam itu, dia pernah punya seragam itu. Tapi aku tidak tahu, apakah dia akan memakai seragam itu lagi atau tidak.
Menurutnya kehidupan itu adalah anugerah, harus disyukuri. Aku tak tahu apakah dia benar ingin melakukan semua hal diatas atau memang karena keterpaksaan. Sama sekali aku tak tahu. Aku hanya melihat dari jauh, sangat jauh. Satu hal yang sangat nyata adalah dia harus melakukan itu. Aku tidak yakin orang tuanya memaksanya, karena semua orang tua didunia ini menginginkan anaknya bahagia. Tapi, benar, aku sangat jauh untuk mengetahui itu semua.
Dan sebuah kenyataan lain adalah dia tidak hanya sendiri dalam hal ini, dia mempunyai jutaan kawan didunia ini. Jutaan kawannya juga mempunyai kegiatan yang sama. Berusaha untuk kehidupannya, berjuang untuk setiap detik yang mereka lewati dan meraih bahagia dalam setiap kesedihan, kekesalan, kemarahan dan juga kelelahan untuk semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh manusia dewasa.
Dia masih tetap semangat, hingga dia bisa meyakinkan dirinya bahwa dia telah bisa menaklukan hidup ini. Matanya memiliki sorotan yang membuat hati setiap yang memandang akan merasakan apa yang dia pikirkan. Setiap gerakannya meyakinkan aku bahwa dia bahagia dengan hidupnya, karena dia tak pernah berharap selain pada Allah, Si Maha Penyebar Rezeki.
Teruntuk khusus:
Dua anak yang sangat menyentuh hatiku, kalian sangat tegar!!!!
Kalian benar-benar bekerja untuk menyayangi orang tua, meski orang tua kalian tak berdaya membahagiakan seperti yang dirasakan anak-anak lain, tapi kalian membuktikan bahwa setiap manusia harus menyayangi orang tuanya meski orang tuanya tidak pernah berbuat/memberikan sesuatu untuk kehidupannya.
Sedang terharu........
Dara

